BeritaPerbankan – Total aset Bank Perekonomian Rakyat (BPR) mencatat kenaikan pada Juni 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peran BPR yang konsisten menyalurkan pembiayaan ke sektor mikro dan kecil, segmen yang kerap sulit memperoleh akses dari perbankan konvensional.
Berdasarkan laporan Statistik Perbankan Indonesia yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aset BPR per Juni 2025 mencapai Rp205,57 triliun. Angka ini tumbuh 4,07% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp196,33 triliun pada Juni 2024.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), Tedy Alamsyah, menegaskan sejak awal BPR mengemban misi utama untuk membiayai usaha mikro dan kecil yang belum bankable sekaligus memutus praktik pinjaman ilegal. Menurutnya, konsistensi itu terlihat baik dalam penyaluran kredit maupun penghimpunan dana.
“Hingga kini, BPR tetap fokus melayani masyarakat kecil yang belum terlayani perbankan, baik dari sisi lending maupun funding,” ujar Tedy, Selasa (16/9/2025). Data Perbarindo menunjukkan, total kredit yang disalurkan BPR hingga Juni 2024 mencapai Rp162,57 triliun, tumbuh 7,17% YoY dari Rp151,69 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) yang dikelola BPR tercatat Rp154,63 triliun atau naik 7,01% YoY dibandingkan Juni 2023 yang sebesar Rp144,49 triliun. Sementara itu, kualitas kredit BPR dinilai masih dalam kondisi terkendali meski rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) mengalami kenaikan.
Tedy menjelaskan, kenaikan NPL bukan disebabkan oleh macetnya kredit baru, melainkan akibat penyesuaian regulasi OJK pasca berakhirnya program restrukturisasi kredit pandemi Covid-19. Untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan aset dan kualitas kredit, BPR telah menyiapkan beberapa langkah strategis.
Strategi tersebut mencakup penguatan tata kelola (good governance), peningkatan kapasitas SDM, pengembangan infrastruktur teknologi termasuk core banking system, serta tetap menjadikan sektor mikro dan kecil sebagai prioritas utama.
Di sisi lain, Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, mengingatkan bahwa pertumbuhan aset harus diiringi dengan kehati-hatian dalam menjaga kualitas kredit. “Tata kelola bisnis BPR juga harus diperhatikan, mulai dari pemegang saham, pengurus, hingga karyawan,” jelasnya.











