BeritaPerbankan – Batik Indonesia kembali menorehkan prestasi di panggung internasional. Rumah Batik Fractal bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggandeng 30 UMKM batik dan ecoprint dari Sukabumi–Cianjur untuk tampil dalam peragaan busana Front Row Paris pada 6 September 2025.
Dalam ajang bergengsi tersebut, sepuluh rancangan hasil kolaborasi dari 17 UMKM fesyen dan 13 UMKM kriya batik diperkenalkan dengan tema Whispering Forest. Koleksi ini terinspirasi dari bentang alam Parahyangan—gunung, hutan, laut, serta budaya lokal—dan dirancang dengan bantuan perangkat lunak jBatik, inovasi digital dari Batik Fractal.
Direktur Batik Fractal, Nancy Margried, menjelaskan bahwa Paris dipilih bukan sekadar karena pesonanya, melainkan karena kota ini menjadi pusat mode dunia. Setiap tahun para pembeli internasional hadir di Paris untuk mencari tren yang akan menjadi arah industri fesyen global.
Menurut Nancy, kesempatan tampil di kota mode ini sangat penting agar batik Indonesia bisa diperkenalkan lebih luas, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari industri kreatif modern yang mampu bersaing di tingkat dunia.
Peragaan di Paris ini merupakan puncak dari Program Pendampingan dan Pengembangan Ekosistem Batik Tradisi berbasis digital yang dijalankan sejak 2022 oleh LPS bersama Batik Fractal. Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif sosial LPS bertajuk LPS Peduli, Bakti Bagi Negeri.
Melalui pelatihan berjenjang, pendampingan intensif, serta kurikulum yang terstruktur, sebanyak 30 UMKM batik di Sukabumi–Cianjur dibekali keterampilan produksi, literasi digital, hingga kewirausahaan. Batik Fractal juga berupaya memberdayakan perajin, yang sebagian besar perempuan, agar memiliki daya saing sekaligus kemandirian dalam menjalankan usahanya.
Nancy menegaskan, sejak awal program ini mendapat dukungan langsung dari Ketua LPS periode 2020–2025, Purbaya Yudhi Sadewa, yang kini menjabat Menteri Keuangan. Menurutnya, Purbaya sejak lama mengikuti perjalanan Batik Fractal dan memberi arahan agar program pendampingan ini dijalankan hingga 2025 dengan tujuan membentuk sentra batik baru di Indonesia yang mampu merambah pasar global.
Keikutsertaan para perajin di Front Row Paris menjadi tonggak penting bagi batik Sukabumi–Cianjur. Para pembatik yang sebelumnya berkarya di lingkup lokal kini mendapatkan ruang untuk menunjukkan hasil kreasi mereka di panggung internasional. Nancy menyebutkan, dampak terbesar dari pengalaman ini adalah meningkatnya rasa percaya diri para pelaku UMKM.
Meski demikian, Nancy mengingatkan bahwa pekerjaan tidak berhenti sampai di Paris. Tantangan ke depan adalah menjaga momentum, menindaklanjuti peluang dengan para pembeli internasional, serta memastikan batik Indonesia tampil dengan gaya modern dan avant-garde agar diterima pasar global. Melalui riset yang dilakukan selama pameran, Batik Fractal menemukan bahwa inovasi desain sangat diperlukan agar batik mampu bersaing di luar negeri tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi akar kekuatannya.
Nancy menambahkan, tahun 2025 akan menjadi periode fokus internasional bagi Batik Fractal. Setelah tampil di Paris dan Osaka Expo, pihaknya berharap masih ada publikasi maupun pameran internasional lainnya yang dapat memperluas promosi batik Indonesia di pasar global. Dengan dukungan LPS serta kerja sama erat dengan para pelaku UMKM, Nancy optimistis batik dari Sukabumi–Cianjur akan semakin dikenal luas dan mampu menjadi bagian dari industri mode dunia.











