BeritaPerbankan – Bank Indonesia (BI) mengkritisi sikap perbankan yang lamban menurunkan suku bunga kredit, padahal BI Rate sudah diturunkan empat kali sepanjang tahun ini. Hingga Juli 2025, bunga kredit rata-rata masih berada di level 9,16%, hanya turun tipis dari 9,20% di awal tahun.
Pihak bank beralasan masih tingginya biaya dana (cost of fund/CoF) dan pertimbangan risiko kredit. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menegaskan bunga kredit lebih dipengaruhi CoF ketimbang BI Rate. Ia berharap penurunan BI Rate bisa menekan bunga dana pihak ketiga sehingga CoF turun dan bunga kredit perlahan ikut turun.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menambahkan, bunga kredit biasanya mengikuti penurunan suku bunga deposito. Untuk itu sebagai langkah awal, Maybank pun telah menurunkan bunga deposito secara bertahap agar nantinya bunga kredit bisa ikut disesuaikan.
Sementara itu Direktur Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, bersama Wakil Direktur Bank INA Perdana, Yulius Purnama Junaedi, juga menegaskan bahwa faktor risiko kredit dan tingkat persaingan di pasar turut menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan bunga kredit selain CoF. Beberapa bank memilih strategi “wait and see” sambil memantau langkah kompetitor.
Lambannya penyesuaian bunga kredit berdampak pada melambatnya pertumbuhan kredit perbankan. Pada Juli 2025, pertumbuhan hanya tercatat 7,03% secara tahunan, lebih rendah dari 7,77% di Juni dan 8,43% di Mei. Angka ini semakin menjauh dari target BI tahun ini yang berada di kisaran 8–11%.
Sementara itu, suku bunga kredit baru justru naik 17 basis poin menjadi 9,79%, didorong oleh bank umum swasta nasional (BUSN) yang banyak menyalurkan kredit dengan imbal hasil tinggi, terutama di segmen ritel dan UMKM.











