BeritaPerbankan – Perekonomian Indonesia mulai merespons kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang digulirkan pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Tanda-tanda awal terlihat di pasar keuangan melalui turunnya biaya dana dan meningkatnya likuiditas.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan belanja negara digelontorkan lebih agresif. Pemerintah juga memindahkan dana Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke bank-bank BUMN serta menyiapkan paket stimulus akhir tahun bertajuk 8+4+5 untuk mendorong konsumsi.
Di sisi moneter, BI telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali sepanjang 2025 dengan total 125 basis poin hingga ke level 4,75% pada September. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut langkah ini langsung menekan biaya dana jangka pendek bank, terlihat dari penurunan INDONIA, SRBI, dan yield SBN.
Josua menekankan efek transmisi ke bunga kredit biasanya lebih lambat, tetapi kali ini dipercepat oleh bauran kebijakan. Data BI Agustus menunjukkan bunga kredit rupiah turun tipis menjadi 9,13%, sementara bunga simpanan turun ke 3,07%. Untuk sektor prioritas seperti perumahan dan pembiayaan hijau, bunga kredit sudah lebih rendah dari rata-rata industri.
Penempatan dana pemerintah di bank BUMN juga membuat pasokan likuiditas meningkat sehingga bank tidak perlu lagi menawarkan bunga deposito tinggi. Alhasil, pertumbuhan uang beredar (M0 Adjusted) naik 7,34% yoy per Agustus, dan M2 juga ikut menguat.
Meski penurunan bunga kredit masih terbatas, ada sinyal positif: suku bunga kredit investasi dan modal kerja tercatat menurun, sementara bunga KPR/KPA di sektor prioritas mulai lebih kompetitif. Menurut Josua, dampak penuh terhadap konsumsi dan investasi kemungkinan baru terasa pada 2026, meski perbaikan bertahap sudah muncul sejak paruh akhir 2025.
Guru Besar FEB Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menambahkan bahwa efek paling cepat akan terlihat di kuartal IV-2025 ketika bank mulai menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK) dan melakukan repricing pinjaman. Puncaknya, kata dia, terjadi pada kuartal I–II 2026 seiring meningkatnya investasi dan perekrutan tenaga kerja.
Dengan target pertumbuhan 2025 di level 5,2%, Karimi menilai syarat utamanya adalah kuartal IV bisa tumbuh 5,7–5,9% yoy untuk menutup gap semester I yang hanya 4,99%. “Kuartal IV harus kencang agar target tahunan tercapai,” ujarnya.











