BeritaPerbankan – Industri perbankan syariah nasional kian menunjukkan penguatan pada 2025. Indonesia kini resmi memiliki dua bank syariah setelah berdirinya PT Bank Syariah Nasional (BSN).
BSN berstatus sebagai bank umum syariah (BUS) yang lahir dari proses pemisahan unit usaha syariah milik PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) atau BTN Syariah. Setelah spin off, BSN mengantongi aset sekitar Rp71 triliun dan menargetkan peningkatan aset melampaui Rp100 triliun dalam dua tahun mendatang.
Secara resmi, BSN mulai beroperasi secara nasional pada Senin, 22 Desember 2025, dengan layanan yang berjalan serentak di seluruh jaringan kantor cabang di Indonesia. Direktur Utama BSN Alex Sofjan Noor menegaskan bahwa dimulainya operasional penuh ini menandai pencapaian penting sesuai dengan peta jalan yang telah ditetapkan perusahaan.
Alex menyampaikan, peresmian operasional BSN merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani perseroan dengan dukungan kuat para pemangku kepentingan. Ia optimistis, berbekal fundamental yang solid dan besarnya peluang di industri perbankan syariah, BSN mampu meningkatkan kinerja sekaligus memperkuat perannya sebagai pendorong pertumbuhan sektor tersebut.
Hal itu disampaikan Alex saat melayani nasabah di Kantor Cabang BSN Jakarta Harmoni. Pendirian bank syariah BUMN terbaru ini memang tidak berlangsung singkat. BTN harus melalui tahapan yang cukup kompleks sebelum akhirnya memiliki entitas bank syariah mandiri.
Salah satu langkah krusial dilakukan melalui akuisisi PT Bank Victoria Syariah (BVS) pada 10 Juni 2025, yang dijadikan sebagai kendaraan atau perusahaan cangkang bagi BTN Syariah. Strategi ini dipilih karena dinilai lebih efisien dibandingkan mendirikan perseroan baru dari awal.
BVS sendiri sebelumnya dimiliki oleh BVIC, PT Victoria Investama Tbk. (VICO), serta Balai Harta Peninggalan Jakarta. BVIC dan VICO merupakan bagian dari Victoria Group yang berada di bawah kendali keluarga Tanojo, dengan Suzanna Tanojo—putri pendiri Wings Group—sebagai tokoh utama di grup tersebut.
Nilai akuisisi BVS tercatat sebesar Rp1,5 triliun. Dengan modal awal sekitar Rp3,5 triliun, tambahan rencana rights issue BTN senilai Rp1 triliun, serta akuisisi tersebut, modal awal BTN Syariah diproyeksikan mencapai sekitar Rp6 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menjelaskan bahwa besaran modal tersebut disiapkan untuk memenuhi ketentuan Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) II sekaligus menjaga rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) di kisaran 18% hingga 19%.
Sebelumnya, BTN sempat mempertimbangkan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. (BMI) sebagai kandidat perusahaan cangkang. Isu tersebut mencuat sejak November 2023. Namun rencana itu menuai penolakan dari berbagai pihak, termasuk DPR RI, lantaran kondisi keuangan BMI dinilai kurang sehat, meski secara aset bank syariah tertua di Indonesia tersebut jauh lebih besar dibandingkan BVS.
Pada triwulan I-2025, Bank Muamalat membukukan total aset sebesar Rp60,58 triliun, sementara aset BTN Syariah tercatat Rp61,19 triliun. Apabila akuisisi BMI terealisasi saat itu, aset bank syariah milik BTN berpotensi langsung melampaui Rp100 triliun.











