BeritaPerbankan – Di hadapan ribuan peserta LPS Financial Festival 2025 di Medan, Kamis (21/8/2025), Chairul Tanjung atau yang akrab dikenal dengan sebutan CT yang merupakan salah satu pengusaha paling sukses di Indonesia berbagi kisah masa lalunya.
Sebelum membangun kerajaan bisnis besar bernama CT Corp, ia pernah merasakan hidup dalam keterbatasan. “Saya pernah tinggal di rumah petak sederhana di Gang Abu, Jakarta. Kamar mandinya ada di luar, terbuat dari seng. Bahkan sengnya berlubang-lubang, bisa saling mengintip,” kenangnya.
CT mengungkapkan bahwa hanya keluarganya yang berhasil keluar dari jerat kemiskinan di lingkungan tersebut. Rahasianya, kata dia, terletak pada satu hal penting: pendidikan. “Keluarga saya selalu menomorsatukan pendidikan. Saya percaya, satu-satunya jalan untuk memutus rantai kemiskinan adalah lewat pendidikan,” ujarnya.
Belajar dari masa lalunya itu, CT pun berkomitmen membantu masyarakat kurang mampu agar dapat meraih pendidikan tinggi. Janji itu ia wujudkan dengan mendirikan CT Arsha Foundation, yayasan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.
Hingga kini, yayasan tersebut sudah membiayai ribuan pelajar dari keluarga kurang mampu untuk menempuh studi, baik di dalam negeri maupun di universitas ternama dunia. “Alhamdulillah, sebagian besar lulusan bisa diterima di universitas terbaik di Indonesia dan internasional,” tambahnya.
CT kemudian menyinggung fenomena maraknya pengusaha muda yang memulai bisnis sejak masih sekolah. Ia menekankan bahwa pendidikan dan bisnis bukanlah sesuatu yang perlu dipilih salah satu, karena keduanya bisa berjalan beriringan. “Kalau mau sukses, Anda harus bisa berkorban. Sekolah tetap harus dijalani dengan baik, lulus dengan prestasi tinggi, sementara usaha juga harus dijaga agar berhasil,” jelasnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa keberhasilan selalu menuntut pengorbanan. “Pengorbanannya waktu, tenaga, dan pikiran. Hilangkan waktu bermain, waktu tidur sedikit, bahkan tidak sempat scrolling TikTok. Memang begitulah hidup,” katanya.
CT bercerita bahwa dirinya memulai usaha sejak kuliah, bukan karena pilihan, melainkan tuntutan hidup. Bahkan, ia bisa masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia karena orang tuanya rela menggadaikan kain halus. Sejak mengetahui hal itu, CT bertekad membiayai sendiri kuliah dan kebutuhan hidupnya tanpa lagi membebani orang tua.
“Kesuksesan itu tidak datang seketika. Harus diperjuangkan dengan kerja keras, keringat, air mata, bahkan kadang darah,” ujarnya tegas. Usai berjuang lebih dari empat dekade dalam karier dan berhasil masuk jajaran orang terkaya di Indonesia, CT mengaku dirinya masih terus bekerja keras.
“Dulu saat muda, saya bisa tidur jam 2 atau 3 pagi dan jam 8 sudah mulai kerja lagi. Sekarang, usia saya sudah di atas 60 tahun, jadi tidak bisa seperti dulu lagi. Dulu bekerja sampai 18 jam sehari namun kini saya kurangi jadi 16 jam, 14 jam, dan sampai sekarang ini tidak kurang dari 12 jam sehari,” tuturnya.











