BeritaPerbankan – Indonesia resmi masuk dalam jajaran 10 besar negara dengan kekuatan komputasi penambangan Bitcoin (BTC) terbesar di dunia, berdasarkan laporan Global Hashrate Heatmap Update: Q4 2025 dari Hashrate Index. Dengan kekuatan sekitar 17 exa-hash per detik (EH/s) atau 1,6% pangsa pasar global, Indonesia menyalip Norwegia yang turun peringkat akibat kebijakan penghematan energi.
Amerika Serikat masih memimpin dengan 389 EH/s (37,8%), disusul Rusia 160 EH/s (15,5%), China 145 EH/s (14,1%), Paraguay 40 EH/s (3,9%), dan Uni Emirat Arab 33 EH/s (3,2%). Sementara Oman, Kanada, Kazakhstan, dan Ethiopia mengisi posisi di atas Indonesia.
Hashrate Index mencatat bahwa Amerika Serikat terus memperkuat dominasinya, sedangkan Paraguay, Oman, dan Ethiopia menunjukkan pertumbuhan tercepat. Aktivitas penambangan Bitcoin dikenal boros energi karena membutuhkan komputer berdaya tinggi yang beroperasi tanpa henti; satu transaksi Bitcoin bahkan menghabiskan listrik setara pemakaian rumah tangga Indonesia selama 10 bulan.
Naiknya peringkat Indonesia turut dipengaruhi larangan sementara penambangan kripto di Norwegia. Negara itu mengikuti jejak Tiongkok dan Kosovo yang lebih dulu menekan aktivitas serupa demi penghematan energi. Di sisi lain, negara dengan surplus listrik seperti Amerika Serikat, Paraguay, Oman, dan Indonesia justru menjadi pusat baru pertumbuhan industri penambangan kripto global.











