BeritaPerbankan – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkapkan masih rendahnya kepemilikan tabungan di kalangan generasi Z. Dalam laporan terbarunya, LPS mencatat sekitar 20 juta anak muda berusia 28 tahun ke bawah belum memiliki tabungan di bank. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan lembaga keuangan untuk meningkatkan literasi keuangan serta kesadaran menabung sejak dini.
Wakil Ketua LPS Farid Azhar Nasution menekankan pentingnya setiap individu memiliki simpanan sebagai bagian dari perencanaan keuangan. Menurut dia, tabungan berfungsi sebagai dana cadangan yang bisa digunakan saat kondisi darurat, sekaligus pegangan jangka panjang untuk masa depan.
“Tabungan itu penting untuk jaga-jaga, ibaratnya kalau tidak memiliki tabungan dalam tiga bulan ke depan, ibarat main bola tanpa kiper,” ujar Farid.
Farid menilai kebiasaan menabung belum sepenuhnya terbangun di kalangan generasi muda, terutama mereka yang sudah memiliki pendapatan tetapi belum menjadikannya sebagai prioritas. Ia menambahkan bahwa minimnya tabungan juga dapat mendorong generasi Z mencari solusi jangka pendek melalui pinjaman online atau layanan paylater.
“Tabungan bisa membantu menghindari jeratan utang dari pinjol dan paylater yang sekarang banyak menjerat generasi muda,” kata Farid.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menambahkan bahwa upaya membangun literasi keuangan tidak hanya berhenti pada kebiasaan menabung. Menurut dia, generasi muda juga perlu mulai mempelajari dan memahami instrumen investasi sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang.
“Selain menabung, generasi muda perlu mempelajari instrumen investasi seperti saham dan reksadana yang dapat digunakan untuk tujuan jangka panjang,” ujar Destry.
Destry menjelaskan, investasi kini semakin mudah diakses karena berbagai instrumen sudah terdigitalisasi sepenuhnya. Anak muda tidak lagi harus datang ke kantor bursa atau lembaga investasi, melainkan cukup memanfaatkan platform digital yang tersedia. Ia mendorong generasi muda untuk memanfaatkan teknologi sekaligus memperkuat literasi finansial, sehingga tidak salah langkah dalam mengatur keuangan.
“Karena semua model investasi sudah terdigitalisasi, jadi generasi Z harus paham digitalisasi,” kata Destry.











