BeritaPerbankan – Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat kenaikan pada simpanan nasabah kaya dengan nominal di atas Rp 5 miliar, yang mencapai 18,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 5.562 triliun per Oktober 2025. Simpanan dari kelompok nasabah dengan aset besar dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu penopang likuiditas perbankan.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan pertumbuhan jumlah nasabah super kaya hingga September 2025. Kinerja ini sejalan dengan tren industri perbankan nasional yang menunjukkan peningkatan signifikan pada simpanan bernilai besar, di tengah dinamika suku bunga dan strategi diversifikasi portofolio nasabah.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengungkapkan bahwa jumlah rekening nasabah pada segmen di atas Rp5 miliar tumbuh 4,4 persen secara yoy hingga September 2025. Pada saat yang sama, total nilai simpanan dari kelompok nasabah tersebut meningkat 8,4 persen yoy.
“Pertumbuhan simpanan nasabah terjadi pada berbagai instrumen, khususnya giro dan tabungan. Hal ini sejalan dengan dinamika suku bunga serta menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio nasabah,” ujar Hera.
Menurut Hera, peningkatan dana dari nasabah super kaya tidak terpusat pada satu produk tertentu. Giro dan tabungan justru menjadi kontributor utama, mencerminkan preferensi nasabah terhadap fleksibilitas dan likuiditas di tengah ketidakpastian global serta perubahan arah kebijakan moneter.
Pertumbuhan simpanan bernilai besar tersebut turut memperkuat posisi BCA dalam menjaga struktur pendanaan yang solid. Dana murah yang berasal dari giro dan tabungan dinilai mampu menopang efisiensi biaya dana (cost of fund), sekaligus memberikan ruang bagi bank untuk tetap ekspansif dalam penyaluran kredit secara selektif.
Di sisi lain, persaingan dalam menggarap segmen nasabah kaya semakin ketat. Menyadari hal tersebut, BCA menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan produk dan layanan keuangan yang relevan bagi seluruh segmen nasabah. Fokus utama diarahkan pada penguatan layanan BCA Solitaire dan BCA Prioritas melalui berbagai upaya diferensiasi, baik dari sisi produk, layanan, maupun pengalaman nasabah.
Hera menjelaskan, BCA secara konsisten mengusung konsep hybrid banking sebagai respons atas kebutuhan nasabah yang semakin dinamis. Konsep ini mengintegrasikan layanan digital dengan kekuatan jaringan fisik, sehingga nasabah tetap memperoleh kemudahan transaksi berbasis teknologi tanpa kehilangan sentuhan layanan personal.
“Strategi hybrid banking kami jalankan untuk memberikan layanan yang holistik, mempertahankan posisi BCA di pasar, serta mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Hera.
Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi nasabah super kaya yang membutuhkan layanan cepat, aman, dan personal dalam mengelola aset keuangan mereka. Selain akses digital, kehadiran relationship manager dan kantor cabang tetap menjadi elemen penting dalam membangun kepercayaan jangka panjang.
Ke depan, BCA akan terus memperkuat proposisi nilai pada segmen ini melalui pengembangan layanan wealth management yang lebih komprehensif. Bank juga menyiapkan berbagai solusi investasi yang disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan nasabah. Dalam mengelola pertumbuhan dana, BCA menegaskan tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi simpanan dan efisiensi biaya pendanaan.











