BeritaPerbankan – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Wilayah II menggelar program edukasi LPS Goes To Campus di Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis (30/10). Acara ini membahas peran LPS dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional serta peluang dan tantangan pengembangan ekonomi Bali Utara. Sekitar 300 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan masyarakat mengikuti kegiatan tersebut.
Kepala Kantor Perwakilan LPS Wilayah II, Bambang S. Hidayat, menjelaskan bahwa LPS dibentuk pasca krisis moneter 1997/1998 untuk menggantikan kebijakan blanket guarantee yang dinilai membebani negara dan berpotensi menimbulkan moral hazard. Ia menegaskan bahwa LPS kini memiliki mandat lebih luas berdasarkan UUP2SK, termasuk menjamin polis asuransi dan menangani perusahaan asuransi yang dicabut izinnya oleh OJK.
Bambang memaparkan kondisi perbankan Bali yang menunjukkan tren positif. Jumlah rekening mencapai 9,6 juta dengan total dana Rp191,2 triliun. Sebanyak 99,88 persen rekening dijamin penuh oleh LPS. Meski demikian, terdapat 10 BPR yang telah dilikuidasi, menempatkan Bali di posisi kelima nasional untuk jumlah likuidasi BPR. Ia menambahkan enam sektor ekonomi Bali menunjukkan pertumbuhan pesat, antara lain pengadaan listrik dan gas, transportasi dan pergudangan, akomodasi dan makanan-minuman, jasa keuangan dan asuransi, jasa perusahaan, serta jasa lainnya.
Deputi Direktur BI Provinsi Bali, Muhamad Shiroth, menyoroti ketimpangan pertumbuhan antara Bali Selatan dan Utara. Ia menyebut 67,38 persen ekonomi Bali bergantung pada pariwisata yang terpusat di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan), membuat Buleleng belum menikmati pertumbuhan optimal. Shiroth mencatat lebih dari 46 persen investasi di Bali mengalir ke Badung, sementara Buleleng hanya menerima porsi kecil. BI mendorong penguatan sektor pertanian, pengembangan pariwisata berkualitas, serta peningkatan konektivitas untuk memperkuat ekonomi Bali Utara. Produktivitas pertanian Buleleng disebut meningkat berkat pembangunan irigasi dan intensifikasi.
Kepala Bagian Perekonomian Pembangunan Buleleng, I Made Wirama Satria, melaporkan bahwa ekonomi Buleleng tumbuh 5,04 persen pada 2024, ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Setiap kecamatan memiliki komoditas unggulan seperti kopi, cengkeh, anggur, padi, dan durian. Buleleng juga memiliki potensi besar di sektor peternakan sapi. Ia menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan peta rencana struktur ruang yang mencakup kawasan lindung, kawasan budaya, budidaya laut, serta jaringan transportasi untuk mendukung pengembangan wilayah.
Dekan Fakultas Ekonomi Undiksha, Prof Gede Adi Yuniarta, menilai pengembangan Bali Utara harus strategis dan berkelanjutan. Untuk menjadikan Buleleng destinasi wisata internasional, diperlukan daya tarik yang mampu mendorong wisatawan menginap. Ia menekankan pentingnya rantai nilai pertanian dari hulu ke hilir serta kebijakan yang mempertimbangkan keunggulan komparatif, kompetitif, dan permintaan pasar.











