BeritaPerbankan – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan bahwa sistem teknologi informasi (IT) yang tengah dikembangkan untuk Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) akan mengadopsi standar keamanan siber tinggi yang sama seperti sistem IT milik LPS. Proyek senilai Rp160 miliar ini dipastikan akan dikelola langsung oleh LPS guna menjaga kendali penuh terhadap keamanan dan integritas data nasabah.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa kekuatan sistem keamanan siber internal menjadi alasan utama keberanian LPS meluncurkan inisiatif ini. “Kalau cyber security LPS tidak kuat, saya tidak berani,” ujar Purbaya dalam acara Temu Media di Kantor LPS, Jumat (12/7).
Purbaya menambahkan bahwa pengembangan sistem IT BPR/BPRS tidak memerlukan penambahan anggaran baru. LPS akan mengintegrasikan teknologi keamanan yang sudah dimiliki ke dalam sistem yang dikembangkan untuk BPR.
“Kalau kita meluncurkan program IT BPR nanti, harusnya sudah sama tingkat keamanannya,” ungkapnya.
Program ini juga sepenuhnya diberikan secara gratis kepada BPR yang ikut serta, sebagai bagian dari upaya LPS dalam memperkuat ketahanan digital sektor keuangan di Indonesia.
Pengembangan sistem IT untuk BPR/BPRS akan dilakukan secara bertahap. Sebagai langkah awal, proyek ini akan diujicobakan pada dua BPR sebagai pilot project. Jika berhasil, jumlah peserta akan diperluas menjadi 100 BPR pada pertengahan 2026, dan bertambah lagi pada tahun berikutnya.
Direktur Group Sistem Informasi LPS, Monang Siringoringo, menjelaskan bahwa proses pengembangan dilakukan secara terstruktur, mulai dari perencanaan, pengujian fungsi, hingga evaluasi keamanan.
“Seluruh tahapan akan diuji bersama calon-calon BPR pilot. Kita pastikan dari sisi fungsi dan keamanan, sistem ini benar-benar siap,” tegas Monang.
Menanggapi kekhawatiran soal keamanan data, Monang memastikan bahwa sistem IT BPR/BPRS akan menggunakan standar tertinggi dalam perlindungan siber. Salah satu teknologi yang akan diadopsi adalah Quantum Leap Algorithm, bentuk enkripsi canggih yang masih dalam tahap pengembangan global dan dinilai lebih kuat dibandingkan RSA, enkripsi konvensional yang umum digunakan.
“Data yang kami kelola adalah data nasabah. Itu menyangkut operasional bank. Maka, tidak bisa asal. Harus betul-betul aman,” kata Monang.
Komitmen LPS terhadap keamanan bukan tanpa alasan. Dalam kurun waktu 17 Juni hingga 3 Juli 2025, sistem LPS menghadapi serangan DDoS besar-besaran dengan total serangan mencapai 2,2 miliar hit. Pada puncaknya, 25 Juni 2025, LPS mencatat serangan mencapai 34 juta hit per detik, dengan total traffic sebesar 960 gigabit per detik.
Serangan ini diluncurkan dari 44,6 juta alamat IP yang tersebar di lebih dari 40 negara, termasuk Indonesia, Vietnam, Jerman, Amerika Serikat, dan Belanda. Pola serangan yang berubah-ubah menunjukkan bahwa serangan ini dirancang dengan sistematis dan kompleks. Namun, LPS berhasil meredam seluruh serangan tanpa gangguan pada sistem utama.
Monang juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2022, LPS sempat menjadi target ransomware. Namun, tim keamanan siber LPS berhasil mendeteksi, menggagalkan, bahkan melacak keberadaan penyimpanan awan milik pelaku dan menghapus data korban lain yang telah dicuri.
“Kalau LPS saja bisa diserang, artinya tempat lain juga bisa. Maka kita semua harus serius dan kolaboratif dalam menghadapi ancaman siber,” ujar Monang.











