BeritaPerbankan – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat perlambatan pada pertumbuhan simpanan masyarakat kelas menengah bawah. Per Juli 2025, simpanan dengan nominal hingga Rp100 juta hanya tumbuh 4,8% secara tahunan, melambat dibanding bulan sebelumnya 4,9% dan posisi Desember 2024 sebesar 5,1%.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai kelompok menengah kini berada pada posisi paling terjepit. Mereka tidak memperoleh bantuan sosial sebesar kelompok miskin, namun juga tidak mendapatkan insentif fiskal seperti investor atau korporasi.
“Disposable income terus turun karena beban pajak, pungutan, dan iuran. Uang yang bisa dibelanjakan semakin sedikit, sementara lapangan kerja formal makin terbatas,” jelas Bhima.
Menurutnya, kondisi ini memicu fenomena “shrinking middle class” atau penyusutan jumlah kelas menengah. Dampaknya, porsi simpanan di perbankan pun kian mengecil.
Bhima menyarankan pemerintah segera menurunkan PPN dari 11% menjadi 8% serta menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) hingga Rp7 juta per bulan. Dengan begitu, daya beli masyarakat kelas menengah bisa lebih terjaga.
Ia juga menekankan pentingnya subsidi upah tidak hanya untuk pekerja formal, tetapi juga sektor informal dan pekerja di gig economy.
“Kalau tabungan meningkat, artinya kelas menengah lebih siap menghadapi guncangan ekonomi,” tambahnya.
Di sisi lain, perbankan mengakui tren simpanan kelas menengah masih menghadapi tekanan. Head of Deposit Product Management Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto, menyebut nasabah kini lebih berhati-hati menempatkan dana dengan fokus pada kebutuhan rumah tangga.
“Pertumbuhan simpanan segmen ini tidak setinggi periode sebelumnya, namun tetap menunjukkan ketahanan,” ungkap Mega.
Bank Mandiri menargetkan simpanan ritel, termasuk kelas menengah, tumbuh sekitar 6% sepanjang 2025 seiring proyeksi ekonomi nasional yang tetap positif.
Sementara itu, BTN juga melaporkan dana tabungan segmen menengah masih tumbuh positif. Per Juni 2025, pertumbuhan tercatat 1,98% secara tahunan dan 6,65% year to date. BTN mengandalkan strategi digital dan diversifikasi produk untuk menjaga pertumbuhan dana pihak ketiga.











