BeritaPerbankan – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, menilai bahwa pemikiran ekonom legendaris Indonesia, Prof. Sumitro Djojohadikusumo, masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Hal ini disampaikannya dalam Simposium Nasional bertajuk Sumitronomics dan Arah Ekonomi Indonesia.
“Konsep Sumitronomics bisa menjadi panduan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi dan berkelanjutan,” ujar Purbaya.
Meskipun mengaku baru mempelajari pemikiran Sumitro menjelang simposium, Purbaya menyatakan terkejut karena banyak gagasan Sumitro sejalan dengan teori ekonomi modern yang dia pelajari di Amerika Serikat. Salah satu konsep utama yang diangkat adalah trilogi pembangunan: pertumbuhan ekonomi, stabilitas nasional, dan pemerataan hasil pembangunan.
Menurut Purbaya, Sumitro menekankan tiga hal penting dalam strategi pembangunan:
-
Kemandirian ekonomi, dengan mendorong pembiayaan usaha dari dana domestik melalui optimalisasi sektor perbankan.
-
Keseimbangan antara peran pemerintah dan sektor swasta dalam pembangunan ekonomi nasional.
-
Stabilitas politik dan ekonomi, yang tetap terbuka pada investasi asing di sektor non-strategis untuk mendukung pembiayaan pembangunan.
“Prof. Sumitro juga menekankan pentingnya industrialisasi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tegas Purbaya.
Purbaya menyoroti fluktuasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari masa ke masa. Ia menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soeharto (1967–1997), pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 6,59%. Namun, setelah krisis moneter 1998, pertumbuhan mengalami penurunan drastis, dan belum pernah kembali ke level sebelum krisis.
Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ekonomi cenderung digerakkan oleh sektor swasta (private sector driven), dengan pertumbuhan kredit mencapai 21% per tahun. Sementara di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), arah kebijakan lebih berfokus pada peran pemerintah (government sector driven), dengan pertumbuhan kredit yang melambat menjadi hanya 8% per tahun.
Menurut Purbaya, kurang optimalnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua dekade terakhir terjadi karena ketidakseimbangan antara peran pemerintah dan swasta.
“Kalau hanya satu mesin yang bekerja, maka laju ekonomi tidak bisa maksimal,” ungkapnya.
Menanggapi target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada tahun 2029, Purbaya menilai hal itu bisa dicapai jika kedua mesin ekonomi – fiskal dan swasta – berjalan seimbang.
“Kalau dua mesin ini dikombinasikan dengan baik, pertumbuhan 6,5–7% bisa dicapai dengan lebih mudah. Bahkan 8% bukan sesuatu yang mustahil,” ujarnya optimis.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas sistem keuangan dan perbankan. Menurutnya, sistem perbankan yang sehat menjadi fondasi utama untuk memastikan dana yang tersimpan bisa berperan dalam pembangunan nasional.
“LPS berkomitmen menjaga stabilitas perbankan dan sudah mulai berkontribusi langsung ke masyarakat, salah satunya dengan penguatan infrastruktur digital di BPS serta mendukung UMKM melalui sistem IT gratis,” pungkas Purbaya.











