BeritaPerbankan – Pasar keuangan Indonesia kembali beroperasi hari ini, Senin (3/11/2025), menandai awal perdagangan bulan November. Pembukaan pasar ini disambut harapan agar pergerakan aset domestik bisa kembali ke zona hijau setelah pekan lalu ditutup bervariasi.
Pada perdagangan Jumat (31/10/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,25% atau turun 20,19 poin ke level 8.163,88. Sepanjang sesi, indeks sempat bergerak di kisaran 8.144–8.215 dengan total transaksi mencapai Rp19,18 triliun dan volume perdagangan 28,09 miliar saham dari 1,98 juta kali transaksi.
Dari total saham yang diperdagangkan, 272 saham menguat, 377 melemah, dan 161 stagnan. Meski indeks turun, investor asing masih mencatatkan net buy Rp1,13 triliun di seluruh pasar. Namun, secara mingguan IHSG terkoreksi 1,30%.
Sektor dan Saham Penopang
Sektor utilitas menjadi penopang utama dengan kenaikan 0,84%, disusul teknologi naik 0,79%, serta konsumer non-siklikal yang menguat tipis 0,09%. Sementara tekanan terbesar datang dari sektor bahan baku yang terkoreksi 0,83%, properti turun 0,70%, dan energi melemah 0,67%.
Secara individual, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi penyumbang positif terbesar dengan tambahan 11,59 poin, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 4,72 poin, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 2,81 poin.
Sebaliknya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi penekan utama IHSG dengan penurunan masing-masing sekitar 7,03 poin.
Rupiah Masih Tangguh
Dari pasar valuta asing, rupiah menutup perdagangan akhir pekan dengan penguatan tipis 0,06% ke level Rp16.625 per dolar AS, berdasarkan data Refinitiv. Meski demikian, sepanjang sepekan rupiah masih melemah 0,21%, mengikuti tren penguatan dolar AS (greenback) di pasar global.
Kenaikan dolar AS terjadi setelah The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam rapat FOMC pekan lalu.
Namun, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell membuat pelaku pasar waspada. Powell menegaskan, pemangkasan suku bunga lanjutan pada Desember belum bisa dipastikan, apalagi di tengah shutdown pemerintahan AS yang menunda publikasi data ekonomi penting.
“Jika penutupan pemerintahan terus berlangsung, The Fed akan kesulitan melanjutkan pemangkasan suku bunga,” tulis ekonom Jefferies, Mohit Kumar, dalam catatannya.
Obligasi Tertekan
Dari pasar surat utang, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 0,66% ke level 6,099% pada akhir pekan lalu. Secara mingguan, yield naik 1,75%, menandakan adanya aksi jual investor di pasar sekunder yang menekan harga obligasi.
Outlook Pasar
Meski tekanan eksternal masih terasa, ketahanan rupiah dan arus masuk asing menjadi sinyal positif bagi stabilitas keuangan domestik. Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi awal November, yang diharapkan dapat menjadi katalis baru bagi pergerakan pasar di pekan ini.











