BeritaPerbankan – Internet murah dan berkecepatan tinggi menjadi salah satu isu utama sepanjang 2025, seiring dimulainya lelang frekuensi 1,4 GHz pada Agustus lalu. Spektrum dengan lebar pita 80 MHz di rentang 1.432–1.512 MHz ini diperuntukkan bagi layanan fixed wireless access (FWA), yakni internet nirkabel yang digunakan di lokasi tertentu.
Pemerintah membagi lelang frekuensi tersebut ke dalam tiga wilayah regional. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan bahwa pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz diarahkan untuk menghadirkan layanan internet dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Ia memperkirakan layanan ini mulai dapat dinikmati secara luas pada 2026.
Salah satu pemenang lelang, MyRepublic Indonesia, saat ini tengah menyiapkan pembangunan infrastruktur jaringan. Perusahaan sedang melakukan proses pengadaan perangkat dan CPE sebelum melanjutkan ke tahap perizinan serta pelaksanaan roll-out secara bertahap.
MyRepublic menargetkan pembangunan sekitar 2.000 hingga 3.000 titik pemancar pada fase awal pengembangan jaringan. Implementasi layanan FWA akan dilakukan dalam beberapa tahap, menyesuaikan kesiapan infrastruktur dan kebutuhan di masing-masing wilayah.
Dalam hasil lelang, PT Telemedia Komunikasi Pratama—anak usaha Surge (WIFI)—memenangkan Regional I dengan nilai penawaran Rp403,76 miliar. Sementara itu, MyRepublic mengamankan Regional II dan III dengan nilai penawaran masing-masing Rp300,89 miliar dan Rp100,89 miliar.
Selain itu, Surge menyiapkan program “Internet Rakyat” dengan tarif Rp100 ribu per bulan dan kecepatan hingga 100 Mbps berbasis teknologi Open RAN. Program ini ditargetkan mulai dikembangkan pada awal 2026 dengan rencana pembangunan ribuan stasiun basis untuk menjangkau wilayah Jawa, Maluku, dan Papua.











