BeritaPerbankan – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan dana pihak ketiga (DPK) di sektor perbankan akan terus mengalami peningkatan hingga kuartal IV/2025, meskipun laju pertumbuhan deposito diperkirakan menurun.
Berdasarkan hasil Survei Perbankan BI, penghimpunan DPK secara kumulatif (year to date/YtD) sampai kuartal IV/2025 diperkirakan meningkat. Hal ini tercermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) yang mencapai 93,97 persen, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 89,27 persen.
Dilihat dari jenis simpanan, BI memperkirakan pertumbuhan tabungan dan giro akan lebih kuat dibanding kuartal IV/2024, dengan masing-masing nilai SBT sebesar 97,65 persen dan 56,56 persen. Sementara itu, deposito masih diperkirakan tumbuh, namun dengan SBT yang lebih rendah, yakni 44,20 persen, dibanding 88,79 persen pada kuartal IV/2024.
Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), Lani Darmawan, menyampaikan bahwa menjelang akhir tahun, perbankan cenderung fokus pada peningkatan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA).
Ia menjelaskan bahwa kondisi likuiditas yang longgar membuat bank tidak perlu bersaing agresif dalam menawarkan bunga deposito. “Dengan likuiditas yang cukup di pasar, bank tidak terdorong untuk menaikkan bunga deposito, sehingga instrumen ini menjadi kurang menarik bagi nasabah,” jelas Lani.
Sementara itu, Frengky Rosadrian Perangin Angin, selaku Retail Funding Division Head PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN), menilai bahwa perlambatan penurunan suku bunga menjadi salah satu penyebab menurunnya minat masyarakat terhadap deposito. “Ketika suku bunga turun lebih lambat, masyarakat lebih memilih menyimpan dana di tabungan untuk keperluan transaksi,” ujarnya.
Dari sisi makro, Chief Economist PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Josua Pardede, menilai bahwa pergeseran dana ke tabungan dan giro mencerminkan dua hal utama:
Pertama, meningkatnya kebutuhan likuiditas nasabah untuk mendukung transaksi akhir tahun serta adanya tanda-tanda pemulihan aktivitas bisnis. Hal ini terlihat dari indeks PMI-BI industri pengolahan yang masih berada di zona ekspansi dan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang menunjukkan perbaikan di sektor industri.
Kedua, tren penurunan suku bunga membuat imbal hasil deposito menjadi kurang kompetitif dibandingkan rekening transaksi, sehingga dana cenderung mengalir ke tabungan dan giro. Josua menambahkan, data per September 2025 menunjukkan pertumbuhan DPK banyak ditopang oleh kenaikan giro yang lebih cepat dibandingkan simpanan berjangka, di tengah penurunan bunga dana rupiah secara bulanan yang menandakan meredanya kompetisi antarbank.
“Kondisi ini menggambarkan mengapa tabungan dan giro akan tumbuh lebih pesat pada kuartal IV/2025 dibanding tahun sebelumnya,” terang Josua.
Ia menegaskan, melemahnya minat terhadap deposito bukan karena nasabah mencari bunga yang lebih tinggi di bank lain, tetapi akibat dua faktor utama: menurunnya kompetisi bunga antarbank karena likuiditas memadai dan turunnya biaya dana, serta adanya pergeseran investasi ke instrumen seperti surat berharga, reksa dana pasar uang, dan reksa dana pendapatan tetap, yang kinerjanya membaik seiring turunnya imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
“Dengan demikian, perlambatan deposito lebih mencerminkan normalisasi harga dana perbankan serta diversifikasi portofolio nasabah ke instrumen non-deposito, bukan sekadar berkurangnya kompetisi antarbank,” tutup Josua.











